Peringatan Tahun Baru Islam 1448 H Bersama Ustadz Ucay di Masjid Agung Al A’la Gianyar
Artikel Jamaah

Peringatan Tahun Baru Islam 1448 H Bersama Ustadz Ucay di Masjid Agung Al A’la Gianyar

sayapengurus 05 Juli 2026 6 menit baca
Mode Baca

Atur ukuran teks agar artikel lebih nyaman dibaca.

Kegiatan peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah berlangsung dengan khidmat dan penuh kebersamaan di Masjid Agung Al A’la Gianyar. Rangkaian acara diawali dengan pembukaan melalui pembacaan basmalah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa bersama.

Setelah rangkaian pembukaan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum DKM Masjid Agung Al A’la, Nurwidyaswanto, ATD., M.T. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa peringatan Muharram bukan hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat nilai persaudaraan, kekeluargaan, kebersamaan, dan persatuan di tengah masyarakat.

Rangkaian sambutan kemudian dilanjutkan oleh Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Drs. H. Khoiron, M.Pd.I. Pada kesempatan tersebut, beliau menyampaikan permohonan maaf karena Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar belum dapat hadir secara langsung karena sedang dalam kondisi sakit.disampaikan bahwa Kabupaten Gianyar dikenal sebagai daerah yang kaya akan seni, budaya, dan keberagaman umat.Kasi Bimas Islam juga menyampaikan beberapa capaian dan prestasi yang telah diraih, baik di tingkat provinsi maupun nasional. Salah satu perhatian yang turut disampaikan adalah masih terbatasnya jumlah guru agama Islam di Kabupaten Gianyar. Oleh karena itu, masjid mengambil peran lebih besar dalam memberikan solusi, salah satunya melalui kegiatan pengajaran mengaji secara rutin setiap minggu.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Bupati Gianyar yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Asisten I Setda Kabupaten Gianyar, Dr. I Ketut Mudana, S.H., M.B.A. Dalam sambutan yang disampaikan, Dr. I Ketut Mudana, S.H., M.B.A. mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan di tengah keberagaman. Perbedaan tidak seharusnya menjadi pemisah, melainkan menjadi kekuatan untuk saling melengkapi. Dengan saling menghargai dan menghormati, masyarakat diharapkan mampu menciptakan suasana yang damai, rukun, dan harmonis demi kemajuan Kabupaten Gianyar.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiyah agama yang disampaikan oleh Ustadz Ucay.beliau menyampaikan pentingnya menghormati guru sebagai sumber ilmu dan bimbingan dalam kehidupan.
Seseorang tidak akan menjadi hebat dan besar tanpa bimbingan seorang guru.
Jika ada yang merasa besar tanpa guru, maka itu adalah sesuatu yang tidak benar.

Beliau juga mengingatkan bahwa
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan menuntunnya menuju salah satu jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada orang yang menuntut ilmu.”Maka doa para malaikat kepada jamaah yang hadir dalam majelis ilmu Seakan-akan para malaikat berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa para jamaah yang hadir dalam majelis ilmu dan zikir pada malam ini.

Ustadz menyampaikan bahwa duduknya seseorang di dalam majelis ilmu tidak sama dengan duduk biasa.Majelis ilmu memiliki keutamaan yang besar. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa mempelajari satu bab ilmu lebih baik daripada mengerjakan seribu rakaat shalat sunnah.

Kemudian Ustadz menjelaskan tentang ciptaan Allah. Allah menciptakan malaikat sebagai makhluk yang taat kepada-Nya, tidak memiliki hawa nafsu seperti manusia. Allah juga menciptakan hewan yang memiliki nafsu, tetapi tidak diberi akal untuk memahami perintah dan larangan sebagaimana manusia. Sedangkan manusia diciptakan dengan dua hal, yaitu akal dan nafsu.

Ustadz juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi sekarang sangat pesat. Manusia semakin pintar, alat semakin canggih, dan zaman terus berubah. Namun, jangan sampai manusia merasa sombong karena kemajuan teknologi. Sebab setinggi apa pun ilmu manusia, semuanya tetap berada di bawah kekuasaan Allah.
“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan/izin dari Allah.”

Ustadz kemudian mengingatkan bahwa Sesungguhnya orang yang baik adalah orang yang tidak memiliki kesombongan di dalam hidupnya. Ia tidak merasa dirinya paling benar, tidak merasa dirinya lebih suci, dan tidak merasa amalnya lebih baik daripada orang lain. Karena orang yang benar-benar dekat kepada Allah justru semakin takut apabila amalnya belum diterima.“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.”

Karena itu, jangan mudah merasa amal kita sudah paling baik. Yang paling mengetahui amal kita diterima atau tidak hanyalah Allah. Tugas kita adalah terus beramal, menjaga keikhlasan, memperbaiki niat, dan tidak sibuk membanggakan diri.

Adapun ketika melihat kekurangan atau kesalahan orang lain, tugas kita bukan menghina atau merasa lebih baik, tetapi mengingatkan dan menganjurkan kepada kebaikan dengan cara yang baik.“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”

Kemudian Ustadz menyampaikan sebuah kisah hikmah tentang seseorang yang hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Subuh. Dalam perjalanan, orang itu diganggu oleh setan hingga terjatuh dan pakaiannya menjadi kotor. Namun dalam perjalanan berikutnya,menuju masjid, datang seseorang membawa penerangan dan membantunya sampai ke masjid. Ketika diajak masuk untuk shalat Subuh berjamaah, orang itu menolak. Setelah ditanya, ternyata ia mengaku sebagai setan. Setan itu berkata bahwa ia takut jika orang tersebut kembali terjatuh, maka Allah akan mengampuni lebih banyak dosa, bahkan dalam sebagian cerita disebutkan dosa keluarganya atau penduduk kampungnya ikut diampuni.Kisah ini mengandung pelajaran bahwa setan akan selalu berusaha menghalangi manusia dari kebaikan, terutama dari shalat, zikir, dan ibadah kepada Allah. Namun apabila seseorang tetap istiqamah, sabar, dan tidak menyerah dalam beribadah, maka godaan setan tidak akan mampu mengalahkan keteguhan imannya.

Dalam tausiyahnya, Ustadz menyampaikan bahwa kehidupan rumah tangga harus dibangun dengan adab, kasih sayang, saling menghormati, dan saling menasihati dalam kebaikan. Seorang istri hendaknya menjaga adab kepada suaminya, begitu pula seorang suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik, lembut, dan penuh tanggung jawab.

Ustadz kemudian mengingatkan bahwa Allah sangat mencintai hamba yang bertaubat. Tidak ada manusia yang benar-benar bersih dari dosa. Tetapi yang mulia di sisi Allah adalah orang yang ketika berbuat salah, ia segera sadar, bertaubat, dan memperbaiki dirinya.

Kemudian Ustadz menyampaikan bahwa pada bulan Muharram ini, hal yang perlu dibersihkan bukan hanya lahir kita, tetapi juga hati kita. Bulan Muharram menjadi waktu yang baik untuk memperbanyak ibadah, zikir, doa, dan memperbaiki diri.Ustadz juga mengingatkan bahwa baik atau buruknya seseorang sangat bergantung pada hatinya. Jika hatinya baik, maka baik pula perilakunya. Namun jika hatinya rusak, maka rusak pula amal dan perbuatannya.

Di akhir nasihatnya, Ustadz mengingatkan bahwa kunci menikmati hidup bukanlah selalu melihat nikmat orang lain, tetapi mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita. Jangan terlalu sibuk membandingkan hidup dengan orang lain, karena itu bisa membuat hati gelisah dan lupa bersyukur.